Jeje Zaenudin : Persis Mengecam Keras Tindakan Diskriminatif Terhadap Umat Islam India
  • liputan9
  • report9

Advertisement

Update kasus covid-19 indonesia : 24 Maret 2020

686
Positif
30
Sembuh
55
Meninggal

Jeje Zaenudin : Persis Mengecam Keras Tindakan Diskriminatif Terhadap Umat Islam India

Minggu, 01 Maret 2020


inspirasi islam
Event Kongres Umat Islam Indonesia VII di Bangka Belitung, 26-29 Februari 2020



Inspirasi.my.id- Dr. Jeje Zaenudin, Wakil Ketua Umum Pusat Persatuan Islam (Persis) prihatin atas kekerasan yang terjadi terhadap muslimin India.

"Kita sangat prihatin, kesal dan mengutuk serta mengecam keras perilaku itu. Kok di dalam suasana kebebasan dan perjuangan seluruh bangsa menegakan HAM, masih ada bangsa yang membuat peraturan diskriminatif,” ujar Jeje di acara Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Jumat (28/02/2020).

Jeje menilai, di saat  orang-orang ramai menyoal kebebasan dan penegakan hak asasi manasia, justru pemerintah India malah membuat undang-undang yang diskriminatif terhadap Umat Islam Hindustan.

Mengutip Hidayatullah.com, Jeje mengaku kecewa dengan negara yang katanya punya kekuatan, seperti Amerika Serikat, tapi membiarkan peristiwa kekerasan di India.

Jeje mengaku kecewa dengan negara yang katanya punya kekuatan, semisal Amerika Serikat, tapi membiarkan kebrutalan di India.


“Persis juga kecewa negara adidaya seperti Amerika membiarkan peraturan perundang-undangan diskriminatif disahkan di India,” ujarnya.


“Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sedang berkunjung ke India saat terjadi kerusuhan, tapi tidak menyinggung UU diskriminasi dan tindakan kekerasan itu,” ujarnya juga.


Jeje mengatakan bahwa AS dan PBB sangat timpang dalam melihat pelanggaran HAM.

“Selama ini negara Barat khususnya Amerika dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selalu menggunakan double standard terhadap penegakan HAM di negara-negara lain,” ujarnya.

Katanya kalau pelanggaran itu terjadi di negeri Muslim, pasti Islam dikecam habis. “Kalau pelanggaran HAM terjadi di negara Muslim, pasti mereka mengecam umat Islam habis-habisan,” keluhnya.

Sebaliknya jika yang melakukan pelanggaran HAM adalah negara-negara non-Muslim, selama ini diarahkan untuk selalu menghilangkan prasangka tentang perbedaan agama dan suku.

Media lokal NDTV melaporkan bahwa jumlah korban jiwa telah meningkat menjadi 35, menyebabkan lebih dari 200 orang terluka. Bentrokan terjadi antara demonstran pro dan anti Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan (CAB) dimulai pada hari Ahad dan telah beralih menjadi kekerasan komunal antara Hindu dan Muslim.