Buah Perjuangan Abadi Sayyid Qutb
  • liputan9
  • report9

Advertisement

Update kasus covid-19 indonesia : 24 Maret 2020

686
Positif
30
Sembuh
55
Meninggal

Buah Perjuangan Abadi Sayyid Qutb

Rabu, 06 Mei 2020



26 Agustus 1966, lelaki berumur itu berjalan menuju tiang gantungan. Tidak ada ketakutan tersirat pada wajahnya. Yang ada hanyalah ketenangan dan kebijaksanaan. Tentu saja dia tidak takut karena hari itu dia akan mati syahid lalu bertemu kembali saudara-saudara seperjuangannya yang telah lama mendahuluinya di surga. Dibawah rezim sang tiran Fir’aun abad ke-20, pria tua bijaksana itu didakwa melakukan percobaan pembunuhan terhadap Gamal Abdel Nasser. Jelas hal itu tak masuk akal karena beliau hanya menumpahkan segala pemikirannya bagi masa depan umat Muslim. Beliau adalah Asy-Syahid Sayyid Qutb rahimahullah.

Pada April 2019 lalu, ketua umum PBNU, Sa’id Aqil Siradj menyebut Pegawai Negeri Sipil yang kritis terhadap sistem pemerintahan Indonesia bukanlah terpengaruh oleh Habieb Rizieq Shihab, melainkan oleh sosok yang telah lama berpulang di tahun 60-an bernama Sayyid Qutb. Siapa Sayyid Qutb ini dan mengapa namanya masih bergaung hingga sampai saat ini?
Beliau lahir dengan nama Sayyid Ibrahim Hussain Shadilly Qutb pada tanggal 9 Oktober 1906 di sebuah tempat bernama Musha, Provinsi Asyut, di saat Mesir masih bagian dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Sang ayah adalah seorang aktivis politik yang kerap mengadakan kajian rutin pekanan bersama para ulama dan kaum pemuda Muslim. Kemudian bersama-sama mereka mengaji Al-Qur’an dan mempelajari maknanya. Sekarang kita tahu dari manakah Sayyid Qutb mewarisi kebijaksanaan serta kecerdasan yang menyertai langkah-langkah dakwahnya.

Di usia sepuluh tahun beliau telah hafiz genap seluruh isi Al-Qur’an. Ia juga merupakan penggemar kisah detektif Sherlock Holmes, kisah 1001 malam, buku-buku astrologi, dan buku-buku lintas tema lainnya. Sejak usia belia, Sayyid Qutb rajin menabung untuk membeli buku-buku. Di umurnya yang ke 25 tahun, beliau telah memiliki perpustakaan pribadi dengan buku-buku dari berbagai topik. Hal inilah yang menjadi sumber kekayaan literasi pada pribadinya.

Sayyid Qutb di usia remaja dikenal kritis pada institusi-institusi keagamaan terkait bagaimana mereka menanggapi opini publik. Baginya sekolah agama yang terlalu khusus mengajarkan agama itu tidaklah penting. Seharusnya ada pendidikan ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama diampu dalam satu kurikulum. Beliau mengemukakan ketidaksetujuannya pada pemahaman tradisional para imam dalam bidang pendidikan. Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian selama hidupnya.

Antara tahun 1929 hingga tahun 1933, Sayyid Qutb pindah ke Kairo dan mengenyam pendidikan a la Inggris sebelum menjadi seorang pengajar. Di awal karirnya, ia kerap menulis kritik maupuk karya-karya sastra literature lainnya seperti salah satunya sebuah novel berjudul Ashwak (bhs. Arab: “duri”). Beliau juga sempat dekat dengan sastrawan Naguib Mahfouz dan membantunya menjadi terkenal. Salah satu karya terbaik Qutb ditulis di masa persentuhan langsungnya dengan peradaban Barat ini, yakni “Al-'Adala Al-Ijtima'iyya Fi Al-Islam” (Keadilan Sosial dalam Islam) yang diterbitkan pada tahun 1949.


Tahun 1950, dia sempat tinggal di Amerika Serikat untuk mempelajari sistem pendidikan di Colorado State College of Education (sekarang University of Northern Colorado) di Greeley, Colorado. Sekembalinya dari Mesir, Ia menerbitkan buku berjudul "The America that I Have Seen", dimana beliau mengkritik apapun yang dirinya amati selama di Amerika Serikat. Termasuk gaya hidup materialisme, kebebasan berpendapat, system ekonomi kapitalis, rasisme, pertandingan tinju yang kurang manusiawi, kurangnya selera dalam bidang seni rupa, dan dukungan negara tersebut pada Israel. Dia khususnya sangat terkejut oleh apa yang dilihatnya sebagai kesembronoan moral dan persaingan tak terkendali dalam masyarakat Amerika.

Singkatnya, Sayyid Qutb adalah orang yang menentang segala system yang dianut Barat dan memantapkan tekad demi tegaknya Islam. Ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin di awal 1950-an. Apalagi beliau kemudian ditunjuk sebagai anggota komite kerja dalam dewan pembimbing, cabang tertinggi dalam organisasi.

Beliau bersama kawan-kawannya sempat dekat dengan Gamal Abdel Nasser. Ikhwanul Muslimin saat itu membantu Nasser menggulingkan Raja Farouk I dari Mesir yang dianggap kurang Islami pada Juli 1952. Akan tetapi setelah penggulingan itu sukses, Nasser malah mengkhianati Ikhwanul Muslimin. Ia membentuk sebuah organisasi rahasia bernama Tahrir yang ditugasi untuk mengawasi gerak-gerik para kader IM.

Sayyid Qutb awal mulanya tak tahu hal ini. Ia masih berdiskusi dengan Gamal Abdel Nasser. Perlahan beliau menyadari bahwa sia-sia saja mengupayakan tegaknya hukum Islam di Mesir bila membicarakannya pada seorang nasionalis buta seperti Nasser. Nasser sempat menawari jabatan sebagai menteri, namun ditolak oleh Sayyid Qutb.

Bukan hanya menjauh dari Nasser, Sayyid Qutb bersama beberapa orang anggota Ikhwanul Muslimin merancang percobaan pembunuhan terhadap Nasser pada tahun 1954. Tapi percobaan pembunuhan itu gagal. Ia pun dipenjara bersama beberapa orang anggota IM lainnya. Selama di penjara, beliau mengalami kondisi yang buruk dan kerap mengalami penyiksaan. Akan tetapi di tempat itu juga, Sayyid Qutb melahirkan dua karya penting, yaitu Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an) dan Ma’alim Fi Ath-Thariq (Petunjuk Jalan yang Menggetarkan Iman).

Selama masa-masa beratnya di dalam penjara beliau juga menulis sebuah sya’ir sebagai berikut:

أخي أنت حرٌ وراء السدود # أخي أنت حرٌ بتلك القيود

إذا كنت بالله مستعصما # فماذا يضيرك كيد العبي

Saudaraku, engkau sebenarnya merdeka meski dikurung di balik jeruji besi
Saudaraku, engkau sebenarnya merdeka walau sedang dibelenggu
Jika kau berpegang teguh pada Allah, maka tak ada yang bisa membahayakanmu

Atas permohonan pribadi Perdana Menteri Iraq, Abdussalam Arif, Sayyid Qutb dibebaskan pada tahun 1964. Namun hanya delapan bulan berikutnya, beliau dan beberapa orang anggota IM lainnya kembali dijebloskan dan divonis hukuman gantung. Dakwaannya dari buku Ma’alim Fi Ath-Thariq yang dianggap berbahaya bagi masa depan Mesir. Asy-Syahid Sayyid Qutb pun dihukum gantung pada tahun 1966 dengan tuduhan percobaan pembunuhan. Tentu saja semua ini berasal dari ketakutan berlebih dari Gamal Abdel Nasser dan kacung-kacungnya.


Meskipun beliau telah syahid di tiang gantungan, segala pemikiran Sayyid Qutb tetap abadi di hati para pengikutnya dari kalangan Muslim yang percaya bahwa hukum Islam harus diberlakukan oleh negara. Namanya tak lepas dari pendahulunya, Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Landasannya pemikiran beliau didasarkan bahwa kondisi dunia telah jatuh lagi ke masa Jahiliyah atau masa sebelum kedatangan Islam, baik untuk dunia Barat maupun negara-negara muslim yang condong ke sekuler-nasionalis.

Sebagian orang memandang kehidupan bangsa Arab pada saat itu adalah titik awal kemajuan, tetapi bagi sebagian lainnya melihat hal itu justru sebaliknya. Maraknya budaya Barat hingga tak hanya sekedar cara berpakaian, tapi juga hal-hal terkecil lainnya, membuat lupa umat Muslim akan nilai-nilai ajaran Islam. Maka saat itulah, Sayyid Qutb mencoba melindungi dunia Islam dengan pemikirannya.

Buntut dari berkembangnya ilmu pengetahuan tanpa disertai kesadaran dalam beragama melahirkan sifat manusia yang haus kekuasaan. Klaim sepenuhnya manusia bahwa merekalah yang menciptakan nilai-nilai serta peraturan-peraturan. Hasilnya adalah kepemimpinan tirani di berbagai negara, termasuk di negara-negara Eropa dan Arab. Rezim yang muncul tidak menghadirkan kebebasan dan hak asasi manusia bagi warga negaranya. Islam dilupakan yang padahal ia adalah ajaran paripurna Tuhan kepada manusia mengajarkan kebebasan dan mempunyai hak yang sama. Satu-satunya hukum yang sah dan autentik bagi setiap negara Islam adalah hukum Allah Swt.

Seperti apa yang beliau sampaikan di buku Ma'alim Fi Ath-Thariq, penerapan syariat Islam secara kaffah alias menyeluruh di dalam sendi-sendi kehidupan akan membawa tak hanya keadilan, namun juga ketenangan diri, penemuan ilmiah, kebebasan dan manfaat lainnya. Serupa dengan pemikiran Hasan Al-Banna, Asy-Syahid Sayyid Qutb memberikan dasar teologis untuk jihad bagi tegaknya Islam sedunia, dan dipraktikkan secara beragam oleh berbagai macam organisasi. Ma’alim Fi Ath-Thariq adalah puncak dari segala pemikiran Qutb tentang bobroknya materialisme a la Barat dan pergerakan sekuler-nasionalis Arab yang zhalim . Sistem sosial politik yang mengatur zaman modern, menurutnya adalah buatan manusia dan telah gagal karena alasan tersebut. Alih-alih membuka dunia baru dan pengetahuan, hal ini telah menjauhkankan manusia dari agama dan kembali mengarahkan mereka pada masa Jahiliyah.



Tujuan terbesar Asy-Syahid Sayyid Qutb adalah memajukan umat dan memimpin kebangkitan nilai-nilai Islam. Garda depan tersebut kuat dalam khotbah (seruan) dan persuasi untuk mereformasi semua gagasan dan keyakinan. Umat Muslim mungkin telah kehilangan kekuatan, tetapi di dalam diri mereka tertanam keunggulan dan perlahan bangkit.